Jakarta – Dari sekitar 10.000 warung internet (warnet) yang ada di Indonesia, hanya ‘warnet daerah’ yang dianggap banyak menggunakan Open Source. Di daerah, pakai Open Source lebih mudah. Hal itu dikemukakan oleh Irwin Day, Ketua Asosiasi Warnet Indonesia (Awari) di sela-sela konferensi pers kolaborasi Awari dan Dell Indonesia di InterContinental Mid Plaza, Jakarta, Kamis (30/8/2007). Kebanyakan warnet, papar Irwin, masih menggunakan piranti lunak proprietary. “Mereka kecenderungannya masih menggunakan proprietary. Tapi, justru di daerah-daerah yang terlihat lebih banyak menggunakan Open Source,” kata Irwin. Ia mencontohkan di kota Makassar yang menurutnya terdapat warnet Linux pertama di Indonesia. Di kota itu, lanjut Irwin, dari sekitar 50 warnet ada 10 yang menggunakan Open Source. “Ukuran segitu itu lumayan besar untuk penggunaan di warnet,” ujarnya. Irwin beralasan, kota-kota kecil lebih mudah menerapkan Open Source karena masalah kebiasaan dan pengenalan yang lebih dini di sektor pendidikan. “Ini masalah kebiasaan, jadi mereka belum terbiasa menggunakan proprietary,” tukasnya. Di Makassar, ujar Irwin, dunia pendidikan sudah banyak yang mengenalkan Open Source sejak dini. Pengusaha warnet yang ingin menggunakan Open Source jadi lebih berani dan lebih mudah. Sedangkan di Jawa, ujarnya, penggunaan Open Source kurang diterima karena pengenalannya kurang. “Kuncinya ada di pendidikan. Kalau mau jujur, warnet lebih suka pakai Open Source karena lebih murah,” ia menambahkan. ( wsh / wsh ) sumber = http://detik.com


Leave a Comment




  • tentangKu

    Aku adalah salah satu putra bangsa yang ingin mengabdi kepada ibu pertiwi untuk mencerdaskan masyarakat Indonesia.
  • kontak

  • Aku Mendukung

  • BANNER BLOGKU

  • Asal Pengunjung